Minggu, 24 Oktober 2010

FUNGSI KEMASAN

Sejak jaman batu, kemasan sudah dikenal. Pada waktu itu, kemasan digunakan untuk melindungi barang terhadap cuaca atau proses alam lainnya yang dianggap dapat merusak barang. Selain itu, kemasan juga digunakan sebagai wadah agar barang mudah dibawa ke mana saja selama dalam perjalanan.
Selama berabad-abad, kemasan merupakan suatu konsep fungsional sebatas untuk melindungi barang atau mempermudah barang untuk dibawa dan masih terkesan seadanya. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan semakin kompleks, barulah terjadi penambahan nilai-nilai fungsional, terutama pada abad sekarang di mana persaingan dalam dunia usaha semakin, tajam dan kalangan produsen saling berlomba merebut perhatian calon konsumen. Dengan demikian, konsep fungsional pengemasan telah menjadi bagian penting yang harus mencakup seluruh proses pemasaran dan konsepsi produk sarnpai ke pemakai akhir.
Dengan menilik situasi di atas, pertimbangan-pertimbangan yang ditetapkan untuk suatu rancangan kemasan harus dilandasi pemahaman tentang:
• Karakteristik produk;
• Proses produksi;
• Harga produk;
• Jalur distribusi;
• Produk pesaing;
• Sasaran pasar;
• Promosi;
• Kecenderungan mode.
Menurut Dr. We Chow Hou, Dekan Fakultas Administrasi Bisnis National University of Singapore, keberhasilan menjual produk sangat ditentukan oleh keterampilan un¬tuk mengelola produk inti (core product), produk aktual (actual product), dan produk tambahan (augmented product), yang harus dikombinasikan sesuai lokasi dan waktu pemasarannya.
Hingga awal dekade 1980-an, menurut pakar bisnis Singapura itu, kecenderungan memilih mutu produksi inti masih sangat dominan, sehingga pertarungan strategi pemasaran terletak pada tingkat tersebut, misalnya produksi jam tangan lebih dilihat dari segi ketepatan waktu yang ditencukan akurasi mesinnya. Tetapi, kini konsumen cenderung menuntut penampilan luar, apalagi konsumen wanita. Mereka cenderung menyesuaikan warna jam tangannya dengan baju atau sepatu, tanpa peduli pada ketepatan waktu. Ini menunjukkan terjadinya pergeseran sistem nilai. Kepedulian konsumen beralih dari produksi inti ke produksi aktual, sehingga penampilan luar yang dihiasi tata warna menarik, mulai dari pembungkus hingga desain, otomatis menjadi bagian paling penting dalam pemasaran.
Contoh sukses kiat pemasaran yang mengandalkan produksi aktual itu terlihat pada produksi fast-food ringan seperti Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, Texas Fried Chicken, dan minuman seperti Coca-Cola dan Pepsi Cola.
Ditakar dari rnutu produksi inti, kualitas yang disajikan makanan dan minuman ala Amerika itu belum tentu le-bih baik daripada hidangan lainnya, begitu pula dari segi harganya yang terkadang malah jauh lebih mahal. Lalu mengapa omzet penjualan fast-food dan minuman ringan itu berlipat ganda? Di situlah keajaibannya, mereka mampu mengangkat harkat para konsumen hanya dengan meningkatkan mutu pembungkus dan menyediakan lokasi penjual¬an yang nyaman dilengkapi dengan pelayanan yang serba cepat.
Bagi produsen yang sudah berhasil menggaet konsumen pada tingkat itu, peluang melebarkan strategi pemasaran semakin terbuka. Tinggal bagaimana mempertajam pen-ciuman tentang perubahan selera konsumen yaag juga tc-rus digelitik berbagai produksi para pesaing.
Pada dekade 1980-an misalnya, strategi pemasaran Singapura Airlines (SQ) ditekankan pada in-flight service yang menyediakan minuman ringan dan miiluman keras secara gratis bagi para penumpang, sementara seluruh maskapai penerbangan kelas satu dunia seperti Pan Am, JAL, dan Lufthansa memungut biaya ekstra untuk sajian seperti itu.
Tetapi mengawali dekade 1990-an, strategi pemasaran SQ diubah lewat promosi kecanggihan pesawat mulai dan desain interior hingga pada layanan pasca terbang. Dari kiat itu terlihat bahwa SQ memasuki era produksi tambahan (augmented product), dengan semakin meningkatkan penghar-gaan terhadap harkat konsumen.
Sekilas penelusuran peta strategi yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang berhasil menggaet konsumen dalam jumlah besar itu sebenarnya menunjukkan keterampilan para pengelola yang sanggup mengkombinasikan ketiga jenis produk tersebut yang merupakan bagian penting da¬lam kiat pemasaran.
Namun di belakang implementasi kiat pemasaran itu, pasti muncul lembaga penelitian yang setiap saat mengamati pergeseran kehendak pasar. Mereka setiap saat membandingkan produksi para pesaing dengan produksi mereka sendiri.
Ditinjau dari contoh tenebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pada produk aktual dan produk tambahan, pada konsep fungsional pengemasannya, terdapat prinsip penambahan nilai-nilai.
Ada perbedaan pengertian antara kata pengemasan dan kemasan, pengemasan mencakup keseluruhan konsep termasuk kemasan langsung, bagian luar, pembungkus, merek, pemajangan, pelayanan, Intel ior/exterior, dan bagian yang keseluruhannya berperan dalam pemasaran, baik untuk produk konsumsi, produk industrial, maupun produk jasa.
Kalau kita menilik pada produk-produk luar yang dapat mendunia, kita akan melihat kekuatan yang menonjol pada konsep pengemasannya. Misalnya sabun mandi LUX, merek milik Unilever yang diungkap oleh John Philip Jones, International Account Director LUX (1972-1978), bisa menjadi sabun mandi yang pasarnya paling luas di dunia dan dapat bertahan sekian lama dengan kekuatan merek yang dimilikinya.
Sebagaimana merek-merek kuat lainnya yang memiliki banyak keuntungan, merek yang kuat bisa mengurangi persentase anggaran iklan yang lazim disebut mengurangi share of voice, dengan rata-rata anggaran iklan 6 (enarn) persen dari harga produk. Merek LUX memang terjaga dengan baik, termasuk konsistensi tema iklan dan desain kemasan yang mungkin lebih tua dari usia anda. Fungsi iklan bagi merek-merek besar sekedar memperkuat, melindungi, atau mempertahankan kemapanan.
Kekuatan merek sangat penting dalam pemasaran, apalagi kebanyakan orang membeli berulang-ulang bahkan menjadi teratur membeli terutama consumer goods. Di pasar, orang dihadapkan dengan banyak pilihan. Tentu saja hanya merek yang menonjol atau dikenal yang dilirik. Kencenderungan ini menyebabkan pasar consumer goods bersifat oligopolis, artinya didominasi beberapa merek tertentu saja alias didominasi merek-merek besar.
Menurut para pengamat, di Indonesia hanya sedikit produsen yang mengupayakan agar merek betul-betul memiliki ekuitas yang kuat, tak banyak yang serius rnengembangkan mereknya. Mungkin itu karena merek hanya dianggap sekadar bagian dari produk, hanya sekedar sebuah nama agar dapat dibedakan dengan produk lainnya.
Salah satu produk lokal yang memiliki kekuatan merek misalnya Aqua. Produk air minum yang berharga lebih mahal daripada harga bensin. Produk yang tidak disangka, yang setelah dikemas dalam botol dan diberi label Aqua, sekarang meski belum menjadi merek global, telah menjadi sebuah contoh bagaimana merek bisa membuat sebuah produk yang biasa-biasa saja menjadi bernilai dan laku di pasaran. Dulu tidak ada yang berpikir untuk memproduksi air minum, anggapan orang siapa yang mau beli sementara air minum bisa dengan mudah didapat. Tapi sekarang ba¬nyak produsen yang berlomba-lomba membotolkan air minum.
Seperti diungkapkan Ita Thaher, Direktur Pengembang-an Bisnis PT. Aqua Golden Mississipi "pengembangan merek biasanya kami lakukan dengan membuat inovasi-inovasi dalam hal kemasan."
Jika kemasan akan digunakan semaksimal mungkin da¬lam pemasaraan, fungsi kemasan harus menampilkan sejumlah faktor penting sebagai berikut:
1. Faktor Pengamanan
Melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan barang, misalnya: cuaca, sinar, jatuh, tumpukan, kuman, serangga, dan iain-lain.
2. Faktor Ekonomi
Perhitungan biaya produksi yang efektif termasuk pemilihan bahan, sehingga biaya tidak melebihi proporsi manfaatnya.
3. Faktor Pendistribusian
Mudah didistribusikan dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Di tingkat distributor atau pengecer, kemudahan penyimpanan dan pemajangan perlu dipertimbangkan.
4. Faktor Komunikasi
Sebagai media komunikasi yang menerangkan atau mencerminkan produk, citra merek, dan juga sebagai bagian dari promosi, dengan pertimbangan mudah dili-hat, dipahami, dan diingat.
5. Faktor Ergonomi
Berbagai pertimbangan agar kemasan mudah dibawa/ dipegang, dibuka, dan mudah diambil/dihabiskan isinya.
6. Faktor Estetika
Keindahaa merupakan daya tarik visual yang mencakup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek/logo, ilustrasi, huruf, dan tata ietak, untuk mencapai mutu daya tarik visual secara optimal.
7. Faktor Indentitas
Secara keseiaruhan, kemasan harus berbeda dengan ke¬masan lain, yakni memiliki identitas produk agar mudah dikenali dan membedakannya dengan produk-produk yang lain.
Seluruh faktor fungsional ini sama penting satu dengan lainnya dan merupakan satu kesatuan yang sangat vital untuk mendukung keberhasilan penjualan. Apalagi sekarang ini dengan adanya pola perdagangan modern, khususnya metode penjualan swalayan yang menuntut produk untuk dapat menjual sendiri, penjualan maksimum tidak akan tercapai apabila secara keseluruhan penampilan produk tersebut tidak dibuat semenarik mungkin.
Sebuah kernasan yang buruk akan memberikan citra jelek terhadap suatu produk yang baik dan tidak akan da-pat menolong menjual produk apa pun. Namun, sebuah kemasan yang baik akan lebih berdayaguna dan mem-bangkitkan serta menarik minat pembeli. Dalam banyak hal, keberhasilan penjualan tergantung pada citra yang diciptakan oleh kemasan tersebut. Penampilan dapat dibuat sedemikan rupa agar konsumen dapat memberikan reaksi spontan, baik secara .sadar ataupun tidak. Dalarn keadaan ini, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan melanjut-kannya dengan tindakan, yakni melakukan pembelian di tempat penjualan.
Bauran dari berbagai faktor fungsional ini meliputi daya tarik praktis (rational cognition) dan daya taiik visual (emotional cognition) yang merupakan inti dalam rancangan suatu kemasan yang menjual.

By deandra
TAKEN FROM club desainer

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar